Presiden Joko Widodo dan Setya Novanto seusai pembukaan Musyawarah Nasional

Presiden Joko Widodo dan Setya Novanto seusai pembukaan Musyawarah Nasional

Anda sempat ngomong dengan PDIP soal dukungan ke Jokowi ini, karena sebagian orang menganggap Golkar tiba-tiba menyalip di tikungan? Mendukung Pak Jokowi ini proses yang panjang. Di Munaslub juga sudah disampaikan bahwa kami mendukung pemerintah Jokowi. Kami tidak berpikiran menikung partai lain, tapi memang kami pada posisi sama jiwanya dengan DPD I dan DPD II (Golkar) seluruh Indonesia.

Saat Munaslub Golkar di Bali, Anda merasa didukung pemerintah dan Jokowi? Menurut saya, semua kandidat waktu itu didukung oleh pemerintah. Kenyataannya, daerah-daerah melihat semua langkah yang saya lakukan, karena mungkin saya banyak mendekatkan diri kepada DPD I dan DPD II sejak dulu. Mereka juga tahu apa yang saya lakukan untuk kebesaran partai sehingga mereka meyakini bahwa isu-isu yang begitu santernya itu dilakukan oleh kelompok-kelompok. Jadi mereka melihat bahwa apa yang diisukan kepada saya itu sebenarnya tidak demikian. Isu yang mana? Ya, macam-macam.

Ada yang dibilang ”Papa Minta Saham”, kasus PON, e-KTP. Bagaimana Anda merespons kasus-kasus itu? Ya, saya harus menjelaskan kasus-kasus itu ke daerah. Isu politiknya tinggi. Saya selalu menjadi obyek isu, yang akhirnya menyusahkan saya. Saya sampai dibilang orang yang kuat, sakti. Padahal bukan sakti, tapi memang enggak pernah melakukan itu. Berapa besar dana untuk Munaslub? Biaya operasional saja. Kebetulan tim saya juga punya kemampuan.

Ya, sudah, saling sharing saja. Benarkah Anda menghabiskan dana hingga Rp 700 miliar? Saya tidak melakukan transaksional. Setiap kali berkunjung ke daerah, saya bilang selalu membela kepentingan partai. Yang salah itu, jiwa saya itu, setiap kali dimintai tolong, saya selalu mau. Nah, sekarang saya hati-hati. Kalau ada orang minta tolong, tunggu dulu. Kalau orangnya bermasalah, nanti kita yang kena.

Kayak masalah Freeport. Saya enggak mengerti apa-apa, enggak minta proyek, juga enggak minta saham. Kabarnya, Anda memberi tiap DPD Rp 3 miliar? Tidak ada. Kalau begitu, bisa kaya-kaya. Saya lihat DPD-DPD perlu perhatian supaya partai jalan. Anda konon didukung oleh Panglima TNI dan Panglima Kodam saat Munaslub? Selama saya di sana tidak merasa ada dukungan. Dan saya tidak pernah dihubungi Panglima, Pangdam.

Itu kan isu. Untuk memudahkan mobilisasi sebagai Ketua Golkar, Anda kabarnya akan membeli pesawat pribadi? Orang-orang di pengurus saya ini kan punya kemampuan yang lebih. Kepengurusan ini kan waktunya cepat. Ya, kalau mereka yang punya kemampuan lebih ingin kumpul-kumpul (dana), kan boleh? Saweran? Di dalam dan di luar pengurus Golkar itu banyak pengusaha berhasil yang mau berpartisipasi, karena ingin suatu perubahan setelah Golkar menyatu kembali.

Jika mengakomodasi pengusaha, Anda tak khawatir nanti ada konflik kepentingan dengan kebijakan partai? Mereka membantu untuk meningkatkan efektivitas Partai Golkar. Saya tentu sangat menghargai, menghormati partisipasi itu. Semua itu kan sudah ada di UndangUndang Partai Politik. Kami ikuti koridorkoridor itu, jangan sampai menyalahi aturan. Kan ada ketentuan sumbangan perorangan dan perusahaan.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *