Sudah waktunya budaya Indonesia juga dikenal melalui media game

Meski terlihat mudah digunakan, RpG Maker bukanlah program yang patut dipandang sebelah mata. hal ini terbukti dengan digunakannya RpG Maker oleh banyak pihak, tak terkecuali dari kalangan akademisi. Beruntung, chip menemukan salah seorang akademisi yang bisa membagikan lebih lanjut ketertarikannya dalam dunia RpG dan bagaimana RpG Maker membantunya mewujudkan impiannya. pria yang memiliki nama lengkap Marcellinus Ferdinand Suciadi ini memiliki kisah sendiri mengapa bisa memilih dan bertemu dengan RpG Maker.

Baca juga : Net89

Sejak kecil, pria yang akrab dipanggil “Ferdi” sudah tertarik dengan game RpG. pria yang menggunakan nickname “Exsharaen” ini untuk membuat gamenya sendiri. Awal mulanya, Ferdi bertemu dengan RpG Maker 2000 (RM2K), yang waktu itu baru diterjemahkan ke bahasa inggris oleh seorang hacker Rusia yang sempat chip ulas di bagian awal. Ketertarikannya terhadap RpG Maker ini memancing rasa ingin tahunya dengan mengutak-atik software itu, dan mencari RpG yang dibuat dengan RM2K, hingga akhirnya merasa cocok.

“Sayang, ketika dulu sempat membuat RpG, dengan judul Legend of Rèctannia, komputer saya sempat mengalami masalah beberapa kali. Sehingga, data-data dari game RpG yang telah saya buat dengan susah payah tidak bisa diselamatkan,” ujar Ferdi. Kemudian pada 2003, muncul keinginan dari benak Ferdi untuk membuat situs resensi game, khususnya RpG klasik. “Kenapa klasik? Karena saat itu sudah berjamuran majalah game, yang tentunya mempunyai sumber daya lebih untuk mengulas game-game terkini,” kata Ferdi menambahkan.

Ferdi sengaja mengambil pendekatan yang berbeda. dari usahanya ini, pada awal tahun 2004, lahirlah sebuah situs RpG Fantasy indonesia yang sekarang berubah nama menjadi RpG Fantasy web indonesia. Agar berbeda dengan dengan situs-situs lain yang sudah ada, Ferdi akhirnya menulis cerita sendiri (istilahnya adalah fanfic, tapi dia memberi istilah RpN alias role-playing novel). cerita tersebut berjudul “our Journey” (yang biasa disingkatnya dengan kata “oJ”).

Awal-awalnya, oJ merangkum ide-ide dari beberapa RpG populer (atau yang menurutnya seperti hidden gem alias tidak populer tapi sebenarnya memiliki potensi yang bagus), misalnya Legend of Zelda (dengan mengadopsi legenda Triforce), Final Fantasy (sebagai inspirasi dari nama-nama Guardian yang ada di game tersebut), Lufia (untuk ip system dan sedikit cerita latar belakang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *