Pemenuhan Gizi Untuk Menghilangkan Anemia

sat-jakarta.com – Seribu hari pertama kehidupan anak adalah masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemenuhan gizi yang cukup diperlukan untuk mendukung kesehatan anak di masa depan. WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Kemudian dilanjutkan memperkenalkan makanan pendamping ASI seperti yang disarankan oleh tenaga kesehatan sejak bayi genap berusia 6 bulan dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

Agar anak tetap sehat pada masa penyapihan, MP-ASI harus bernutrisi, bersih, aman, dan diberikan dalam jumlah tepat. Namun pada praktiknya, pemberian MP-ASI di Indonesia belum sesuai dengan rekomendasi WHO. Hal ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka malnutrisi di Indonesia. Permasalahan inilah yang diangkat pada sesi ilmiah yang diadakan oleh Nestlé Nutrition Institute beberapa waktu lalu di Jakarta.

“Berdasarkan kajian literatur, secara umum praktik pemberian MP-ASI pada anak belum optimal. Hal ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka malnutrisi pada anak di Indonesia,” ungkap dr. Trevino dari Kedokteran Komunitas Universitas Indonesia, Jakarta. Pemberian MP-ASI harus dilakukan dengan tepat, baik waktu, jumlah, jenis, dan kualitasnya. Kekurangan asupan mikronutrien dalam jangka panjang dapat berakibat pada defisiensi zat gizi mikro sampai terjadi gejala klinis seperti anemia.

Jika tidak segera ditangani, anemia akan berdampak negatif, seperti penurunan kognitif dan anak mudah terkena infeksi. Head of Public Health Nutrition Department Dr. Jörg Spieldenner, staf ahli dari Nestlé Research Center di Lausanne, melakukan beberapa penelitian mengenai defi siensi mikronutrien. Beliau mengatakan, dalam studi Nestlé Research Center yang diterbitkan tahun lalu, model ekonomi kesehatan digunakan untuk menghitung total biaya akibat kekurangan zat besi, vitamin A dan zink pada kelompok anak-anak usia enam bulan sampai lima tahun di Filipina.

Biaya yang dikeluarkan karena kekurangan zat besi, zink, dan vitamin A di Filipina mencapai USD 30 juta atau sekitar Rp390 miliar per tahun untuk satu generasi. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kerugian produktivitas kerja karena ber kurangnya pendapatan seumur hidup, dimana di Indonesia angka kerugian mencapai miliaran dollar untuk kasus anemia saja.

“Kekurangan mikronutrien begitu mahal dan sangat merugikan kualitas hidup masyarakat, oleh sebab itu sebaiknya dilakukan pencegahan,” ujar Dr. Jörg Spieldenner. Salah satu solusi untuk mencegah defisiensi mikronutrien adalah dengan fortifi kasi pangan. Fortifi kasi adalah upaya meningkatkan mutu gizi pangan dengan menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro tertentu pada makanan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *