Categories
Tech

“Buy Back” Indosat Mimpi Besar

P ERNYATAAN Jokowi di debat capres 22 Juni lalu akan membeli kembali (buy back) saham PT Indosat yang kini dikuasai Ooredoo dari Qatar, membangun tanda tanya besar. Semangatnya boleh, paling tidak untuk mengoreksi kebijakan Presiden Megawati yang menjual 41,94 persen saham BUMN strategis itu pada tahun 2002 kepada Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT). Dalam SPA (sales and purchase agreement) antara Pemerintah RI dengan STT, tidak ada klausul bahwa kita bisa membeli kembali saham Indosat. Yang ada hanyalah kesepakatan locked up, mengunci saham untuk tidak dijual selama dua tahun sejak terjadi transaksi. Tidak bisa buy back, hanya masalah kecil. Berapa Pemerintah menghargai saham operator ketiga terbesar setelah PT Telkomsel dan PT XL Axiata itu dan apakah pemiliknya mau menjual, itu masalah besar. Kata Jokowi penjualan PT Indosat kepada investor asing (2002) karena Indonesia sedang dilanda krisis keuangan. Padahal krisis terjadi pada tahun 1998 bersamaan dengan jatuhnya Soeharto, dan tahun 2002 ekonomi sudah membaik, bahkan pertumbuhan ekonomi di atas 4,5 persen. Nilai rupiah terhadap dollar AS sudah jauh membaik, dari Rp15.000 menjadi sekitar Rp7.000 – Rp 9.000 per dollar AS. Tidak ada kebutuhan menomboki APBN, karena semua berjalan dengan lancar, bahkan pelanggan PT Indosat saat itu mendekati 10 juta.

Hari berikut setelah debat pekan lalu itu harga saham PT Indosat memang sempat naik 2,43 persen, namun terus melorot lagi ke titik lebih rendah. Pasar yakin bahwa mustahil pemerintah Indonesia akan (mampu) membeli kembali saham operator andalan itu. Penjualan PT Indosat sangat disesali banyak pihak, dan sekarang nyaris mustahil untuk membeli kembali saham BUMN Indonesia pertama yang melantai di bursa New York Stock Exchange pada tahun 1994 itu. Keberhasilan Indosat menjual 35 persen saham lewat IPO (initial public offering) yang mendunia itu kemudian menjadi model bagi BUMN lain, termasuk PT Telkom, untuk menjual saham di bursa saham dunia. Indosat menjadi BUMN yang 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah sejak tahun 1980 setelah dibeli dari ITT, dan menjalankan bisnis gerbang internasional 001. Tidak lagi memegang monopoli sehingga gerbang internasional menyuram, Indosat lalu membeli operator GSM pertama di Indonesia, PT Satelindo, seharga sekitar Rp6,6 triliun. Tahun 2002 pemerintah menjual 41,94 persen saham PT Indosat kepada STT sebesar Rp 6,72 triliun, nyaris sama dengan harga beli PT Satelindo yang kemudian jadi bisnis andalan PT Indosat. Tahun 2008, STT Singapura itu menjual kembali sahamnya ke Qatar Telecom (sebelum berubah menjadi Ooredoo), seharga 1,8 miliar dollar AS, atau sekitar Rp18 triliun pada waktu itu. Membanting harga diri Kini, jika pemerintah ingin membeli kembali saham PT Indosat, apakah harganya akan tetap sebesar itu?

Pastinya tidak. Waktu dijual oleh STT, jumlah pelanggan PT Indosat sekitar 25 juta, kini 60 juta dan Qatar harus mengeluarkan lagi dana untuk membeli 23,6 persen saham di lantai bursa, yang kira­kira lebih dari separuh harga beli dari STT, sehingga jumlah “modal” sekitar Rp28 triliun – Rp30 triliun. PT Indosat bukanlah perusahaan sehat jika dibanding PT Telkomsel, atau bahkan dengan PT XL Axiata yang kini sedang sedikit kerepotan fnansial akibat merger dan akusisi PT Axis. Laporan keuangan tahun 2013 menyebutkan, PT Indosat menderita rugi Rp2,66 triliun, turun drastis dari tahun 2012 yang untung Rp487,4 miliar. Beban lain, PT Indosat memiliki utang yang mencapai Rp22 triliun, 47 persen di antaranya utang dalam bentuk dollar AS. Kalau Pemerintah RI “ngoyo” membeli, berapa akan dilepas, apakah sesuai dengan nilai berbasis jumlah pelanggan, ditambah utang, ditambah keuntungan? Berapa pun itu, hitungan ekonomi akan mengeluarkan angka di atas Rp50 triliun.

Yakin PT Indosat tidak akan dijual. Selain operator seluler di Qatar, Ooredoo juga memiliki saham di sembilan operator di KuMantan Wartawan Kompas, kini Editor Ahli Sinyal wait, Oman, Aljazair, Tunisia, Irak, Palestina, Maladewa, Myanmar dan PT Indosat. Jumlah pelanggan gurita ini mencapai 95 juta, sehingga ketika – taruh misalnya PT Indosat dijual – pelanggan Ooredoo tersisa 35 juta, itu membanting harga diri Qatar. PT Indosat rugi tidak masalah, Qatar tidak pernah kekurangan uang. Tambang minyak buminya saja menyetor 400 juta dollar AS per hari, atau setahun 146 miliar dollar AS (sekitar Rp1.750 triliun). Bandingkan dengan APBN Indonesia Rp1.800 triliun untuk penduduk 240 juta, Qatar hanya berpenduduk 2,5 juta termasuk 1,5 juta orang asing. Bagi Negara Sheik itu, nilai uang PT Indosat hanya setitik debu, nilai kehormatannya lebih tinggi dari lompatan Oryx, rusa khas Qatar. Karenanya, mereka konon tidak pernah mengenal kata jual, hanya beli dan beli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *